Minggu, 02 November 2025

“Jalur Rempah: Akar Peradaban dan Perdagangan Dunia dari Nusantara”

 

Jalur Rempah merupakan salah satu warisan maritim terbesar dalam sejarah Indonesia. Jalur ini adalah jaringan perdagangan laut yang menghubungkan wilayah penghasil rempah di Nusantara dengan berbagai daerah di Asia, Timur Tengah, hingga Afrika dan Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa datang, bangsa-bangsa di Asia telah mengenal dan memanfaatkan jalur ini untuk berdagang. Keberadaan Jalur Rempah menunjukkan bahwa Indonesia sudah memainkan peran penting dalam perdagangan internasional sejak berabad-abad yang lalu.

Istilah “Jalur Rempah” mengacu pada lintasan pelayaran dan perdagangan yang membawa hasil bumi Nusantara, terutama rempah-rempah, ke berbagai belahan dunia. Kekayaan alam Indonesia, terutama hasil rempah seperti cengkih, pala, lada, kayu manis, dan kapulaga, menjadi daya tarik utama bagi bangsa-bangsa lain. Komoditas ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kejayaan dan kemakmuran bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Pada masa lampau, rempah-rempah memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Di Eropa, harga rempah bisa sebanding bahkan melebihi harga emas. Rempah-rempah digunakan sebagai bahan masakan, pengawet makanan, obat-obatan, parfum, dan simbol status sosial. Bagi kalangan bangsawan Eropa, memiliki rempah berarti menunjukkan kemewahan dan kekuasaan. Sementara itu, di Asia dan Timur Tengah, rempah juga memiliki nilai religius karena digunakan dalam ritual keagamaan dan pengobatan tradisional.

Kebutuhan tinggi terhadap rempah membuat pedagang dari berbagai bangsa berlomba-lomba mencari sumbernya. Nusantara, khususnya kepulauan di bagian timur seperti Maluku, dikenal sebagai penghasil utama cengkih dan pala. Daerah Sumatra dan Kalimantan menghasilkan lada dan kayu manis, sedangkan Jawa terkenal dengan hasil pertanian rempah-rempah lainnya seperti jahe dan kunyit. Semua ini menjadikan Indonesia sebagai pusat perdagangan rempah dunia.

Secara geografis, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis, terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik). Letak ini menjadikan Nusantara sebagai penghubung penting antara dunia Barat dan Timur. Kapal-kapal dagang dari India, Arab, dan Tiongkok melintasi perairan Nusantara untuk berdagang, membawa barang, dan mencari rempah-rempah yang langka dan mahal di pasaran.

Letak strategis tersebut mendorong munculnya pelabuhan-pelabuhan besar di wilayah pesisir Indonesia. Sejak abad ke-7, kerajaan maritim seperti Sriwijaya di Sumatra berkembang pesat karena menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka. Sriwijaya menjadi pusat transit bagi kapal-kapal dari India dan Tiongkok. Mereka membawa sutra, keramik, logam, dan rempah yang berasal dari bagian timur Indonesia untuk ditukar dengan barang lain yang bernilai tinggi.

Di bagian timur Indonesia, kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku menjadi penghasil rempah-rempah terbesar di dunia. Cengkih dan pala yang tumbuh subur di wilayah ini menjadi incaran utama pedagang asing. Dari Maluku, rempah dibawa ke Jawa dan Sumatra, kemudian diteruskan ke Malaka dan India sebelum akhirnya sampai ke pasar Timur Tengah dan Eropa. Hubungan perdagangan ini menciptakan jaringan ekonomi yang sangat luas dan kompleks.

Selain di Maluku dan Sumatra, pelabuhan di Jawa seperti Gresik, Tuban, dan Banten juga berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pedagang dari berbagai bangsa datang dan berinteraksi di pelabuhan-pelabuhan tersebut. Pertukaran barang seperti rempah, emas, kain, dan keramik disertai pula dengan pertukaran ide, pengetahuan, dan kebudayaan. Inilah awal terbentuknya masyarakat pesisir yang terbuka dan kosmopolitan.

Sebelum bangsa Eropa datang, jalur perdagangan rempah sudah teratur dan terhubung dengan baik. Dari Maluku dan Sulawesi, rempah diangkut ke Jawa dan Sumatra, kemudian diteruskan ke pelabuhan Malaka, Gujarat, dan Aden. Dari sana, pedagang Arab membawa rempah menuju Mesir dan akhirnya ke Eropa. Jalur ini mencerminkan betapa luasnya jaringan perdagangan yang melibatkan Nusantara sebagai pusat penghasil utama.

Jalur Rempah merupakan bagian penting dari Jalur Sutra Maritim Dunia, yaitu jalur perdagangan laut yang menghubungkan Tiongkok, Asia Tenggara, India, Arab, dan Eropa. Melalui jalur ini, tidak hanya barang yang berpindah, tetapi juga ide, teknologi, dan sistem kepercayaan. Jalur Rempah menjadi jembatan pertukaran budaya dan pengetahuan antara bangsa-bangsa Timur dan Barat.

Interaksi yang terjadi melalui perdagangan rempah membawa pengaruh besar bagi masyarakat Nusantara. Pedagang dari Gujarat dan Arab memperkenalkan agama Islam ke berbagai wilayah pesisir. Sementara pedagang Tiongkok membawa pengaruh budaya seperti seni keramik dan arsitektur. Hubungan antarbangsa ini mendorong terbentuknya masyarakat yang terbuka dan multikultural di kawasan Nusantara.

Proses akulturasi antara budaya lokal dan asing mulai terlihat di berbagai daerah. Dalam bidang arsitektur, misalnya, gaya bangunan masjid di pesisir seperti Masjid Agung Demak memadukan unsur budaya Islam dengan arsitektur tradisional Jawa. Dalam bidang bahasa, muncul istilah-istilah baru hasil serapan dari bahasa Arab, Tamil, dan Tiongkok. Semua ini memperkaya khazanah budaya Indonesia.

Perdagangan rempah juga mendorong pertumbuhan kota-kota pelabuhan yang ramai. Kota seperti Palembang, Banten, Makassar, dan Gresik menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial. Di tempat-tempat tersebut, masyarakat hidup dari kegiatan perdagangan, pelayaran, dan jasa. Penduduknya terdiri dari berbagai etnis yang saling berinteraksi, seperti Melayu, Bugis, Jawa, Arab, India, dan Tionghoa.

Dari sisi ekonomi, perdagangan rempah membawa kemakmuran besar bagi kerajaan-kerajaan Nusantara. Sriwijaya, misalnya, mendapatkan keuntungan besar dari pajak kapal yang lewat di wilayah kekuasaannya. Begitu juga dengan kerajaan Ternate dan Tidore yang memperoleh kemakmuran dari hasil rempah. Kekayaan ini membuat kerajaan-kerajaan maritim Indonesia dikenal dan disegani oleh bangsa lain.

Namun, di balik kemakmuran itu juga terdapat tantangan. Persaingan antarkerajaan untuk menguasai jalur perdagangan sering menimbulkan konflik. Ternate dan Tidore, misalnya, beberapa kali bersaing dalam memperebutkan wilayah penghasil rempah. Persaingan tersebut menunjukkan betapa pentingnya nilai ekonomi dari rempah-rempah bagi kekuasaan politik dan ekonomi di Nusantara.

Jalur Rempah juga memperkuat identitas maritim bangsa Indonesia. Sejak masa awal, masyarakat Nusantara dikenal sebagai pelaut ulung yang berani mengarungi lautan luas. Mereka menguasai teknik navigasi tradisional, memahami arah angin muson, dan mampu menjelajahi berbagai wilayah untuk berdagang. Hal ini menjadi dasar kejayaan maritim bangsa Indonesia di masa-masa berikutnya.

Kegiatan perdagangan yang berlangsung di sepanjang Jalur Rempah menjadikan Nusantara dikenal di dunia internasional. Nama-nama seperti Banda, Ternate, Tidore, dan Maluku muncul dalam catatan pedagang Arab, Tiongkok, dan India sejak abad ke-10. Citra Indonesia sebagai “negeri penghasil rempah” membuatnya terkenal di berbagai belahan dunia.

Melalui Jalur Rempah pula, berbagai agama dan kepercayaan menyebar di Nusantara. Sebelum Islam datang, pedagang India membawa pengaruh Hindu dan Buddha melalui perdagangan laut. Setelah abad ke-13, penyebaran Islam melalui jalur dagang semakin meluas ke berbagai daerah pesisir. Dengan demikian, perdagangan menjadi sarana penting bagi penyebaran agama dan kebudayaan di Indonesia.

Dari seluruh proses panjang ini, dapat dipahami bahwa Jalur Rempah bukan sekadar jalur ekonomi, tetapi juga jalur peradaban. Jalur ini menjadi bukti betapa pentingnya peran Indonesia dalam membentuk jaringan global di masa lampau. Melalui perdagangan rempah, Nusantara menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa dan budaya yang saling berinteraksi serta memperkaya kehidupan masyarakat.

Kini, pemerintah Indonesia berusaha menghidupkan kembali Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia. Revitalisasi Jalur Rempah bertujuan untuk mengingatkan generasi muda tentang kejayaan maritim Indonesia di masa lalu. Dengan memahami sejarah Jalur Rempah, siswa dapat belajar nilai-nilai penting seperti kerja keras, semangat dagang, keterbukaan terhadap perbedaan, serta kebanggaan terhadap jati diri bangsa sebagai bangsa maritim yang besar dan berpengaruh di dunia.


Senin, 01 Januari 2024

SUMBER DAN TEORI MASUKNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA DI INDONESIA

 

        SUMBER MASUKNYA AGAMA DAN KEBUAYAAN HINUD-BUDHA DI INDONESIA

a. Sumber Dari India

Bukti adanya hubungan dagang tersebut dapat diketahui dari kitab Jataka dan kitab Ramayana tetapi tidak menyebutkan kapan India mengenal Indonesia. Kitab sastra india yang dapat dipercaya adalah Kitab Mahaniddesa yang memberi petunjuk bahwa masyarakat india telah mengenal beberapa tempat di Indonesia pada abad ke-3 Masehi. Dalam kitab Geograpihike yang ditulis pada abad ke-2 juga disebutkan telah ada hubungan dagang antara india dan Indonesia. Dari kedua keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara intensif terjadinya hubungan dagang antara Indonesia dan india mulai abad-abad tersebut (abad ke 2-3 Masehi).

b. Sumber Dari Cina

Hubungan Indonesia dengan cina diperkirakan telah berkembang pada abad ke-5. Bukti-bukti yang memperkuat hubungan itu di antaranya adalah perjalanan seorang pendeta budha, fahien. Pada sekitar tahun 413 M, Fa Hien melakukan perjalanan dari india ke YE-PO-TI (tarumanegara) dan kembali ke cina melalui jalur laut. Selanjutnya, kaisar Cina, Wen Ti mengirim utusan ke She-Po (Pulau Jawa).

c. Sumber Dari Yunani

Hubungan dagang antara Indonesia dengan india, dan cina dapat diketahui dari Claudius Ptolomeus, seorang ahli ilmu bumi Yunani. Dalam kitabnya yang berjudul Geographike yang ditulis pada abad ke 2. Ptolomeus menyebutkan nama Labadio yang artinya pulau jelai. Mungkin kata itu ucapan Yunani untuk menyebut Yawadwipa, yang artinya juga pulau jelai. Dengan demikian, seperti yang disebutkan dalam kitab Ramayana bahwa Yawadwipa yang dimaksud ialah pula jawa.

d. Prasasti

Prasasti-Prasasti tertua di Indonesia yang menunjukkan hubungan Indonesia dengan India, misalnya prasati Mulawarman di Kalimantan timur yang berbentuk Yupa. Semua prasasati ditulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.

e. Kitab Kuno

Kitab-kitab kuno yang ada di Indonesia biasanya ditulis pada daun lontar yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan tulisan jawa kuno yang juga merupakan pengaruh dari bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa.

f. Bangunan Kuno

Bangunan-bangunan kuno yang bercorak hindu ataupun budha terdiri atas candi, stupa, relief, dan arca. Agama Hindu yang berkembang di Indonesia berbeda dengan agama Hindu yang berkembang di India. Agama dan kebudayaan Hindu disesuaikan dengan kebudayaan dan kepercayaan asli Indonesia yang berintikan pemujaan roh leluhur (animism dan dinamisme). Dalam bidang sastrapun terjadi penyesuaian, misalnya huruf Pallawa berubah menjadi huruf kawi dan huruf jawa kuno. Demikian pula dalam seni bangunan, bentuk candi di Indonesia lain dengan yang ada di India.

 

TEORI MASUKNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU-BUHDA DI INDONESIA

 Teori Brahmana

Van Leur mengajukan keberatan baik terhadap teori ksatria atau pun teori Waisya. Keberatan pertama adalah mengenai kolonisasi. Suatu kolonisasi yang melibatkan penaklukan oleh golongan ksatria tentunya akan dicatat sebagai suatu kemenangan. Namun, catatan itu tidak ditemukan dalam sumber-sumber tertulis di India. Di Indonesia pun tidak ditemukan prasasti-prasasti sebagai bukti adanya penaklukan. Selain itu, suatu kolonisasi selalu disertai oleh pemindahan segala unsur masyarakat dari tanah asal. Misalnya, sistem kasta, kerajinan, bentuk rumah, tata kota, bahasa, pergaulan, dan sebagainya. Dalam kenyataannya apa yang terdapat di Indonesia berbeda dengan yang terdapat di India. Kalaupun ada pedagang-pedagang India yang menetap, mereka bertempat tinggal di perkampungan-perkampungan khusus. Sampai sekarang masih ditemukan Kampung Keling di beberapa tempat di Indonesia barat.

Mereka yang menetap di perkampungan khusus itu kedudukannya tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat itu. Hubungan mereka dengan penguasa hanyalah dalam bidang perdagangan, sehingga tidak dapat diharapkan adanya pengaruh budaya yang membawa perubahan-perubahan dalam bidang tata negara dan agama. Hal ini menjadi lebih jelas, karena sebagian besar pedagang itu adalah pedagang keliling yang berasal dari kalangan masyarakat biasa.

Mengingat unsur-unsur budaya India yang terdapat dalam budaya Indonesia, van Leur cenderung untuk memberikan peranan penyebaran budaya India pada golongan brahmana. Para brahmana datang atas undangan para penguasa Indonesia, sehingga budaya yang mereka perkenalkan adalah budaya golongan brahmana.

Sayangnya dari teori brahmana Van Leur itu masih belum jelas pada yang mendorong terjadinya proses tersebut. Ia berpendapat bahwa dorongan itu adalah akibat kontak dengan India melalui perdagangan. Bukan hanya melalui orang-orang India yang datang, tetapi mungkin juga karena orang-orang Indonesia melihat sendiri kondisi di India.

Terdorong oleh keinginan untuk dapat bersanding dengan orang-orang India dengan taraf yang sama dan terdorong pula untuk meningkatkan kemakmuran negerinya, mereka pun mengundang Brahmana. Para brahmana ini kemudian melakukan upacara vratyastoma, yakni upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar menjadi golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Paul Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka. Dalam tradasi Hindu-Budha kaum Brahmana pantang menyebrang lautan Di Indonesia. Banyak prasasti Hindu-Budha yang menggunakan bahasa sansekerta dan huruf pallawa. Bahasa tersebut pada saat itu hanya dikuasi oleh kaum Brahmana

            Teori Ksatria

R.C. Majundar berpendapat bahwa munculnya kerajaan Hindu di Indonesia disebabkan oleh peranan kaum ksatria atau prajurit India. Para prajurit India diduga mendirikan koloni-koloni di kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya. Namun, teori ksatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar tidak didukung oleh data yang memadai. Selama ini belum ada bukti arkeologis yang menunjukkan adanya ekspansi prajurit India ke Indonesia. Para Ksatria tidak memahami bahasa sangsekerta dan huruf pallawa Kaum Ksatria menunjukan rasa semangat dalam berpetualang ke seluruh dunia

            Teori Waisya

Pendapat lain yang masih berpegang pada anggapan adanya kolonisasi, memberikan peranan utama pada golongan lain. Teori yang pada awalnya diajukan oleh N.J Krom ini memberikan peranan utama kepada golongan pedagang (Waisya). Krom tidak sependapat bahwa golongan ksatria merupakan golongan terbesar di antara orang-orang India yang datang ke Indonesia. Hal ini karena orang-orang itu datang untuk berdagang maka golongan terbesar tentulah golongan pedagang.

Mereka menetap di Indonesia dan kemudian memegang peranan dalam penyebaran pengaruh budaya India melalui hubungan mereka dengan penguasapenguasa Indonesia.

Krom mengisyaratkan kemungkinan adanya perkawinan antara pedangang-pedagang tersebut dengan wanita Indonesia. Perkawinan merupakan salah satu saluran penyebaran pengaruh kebudayaan yang penting. Selain memberikan peranan pada golongan yang berbeda, teori Krom mempunyai perbedaan lain jika dibanding dengan teori ksatria.

Berdasarkan pengamatan berbagai aspek budaya Indonesia-Hindu, Krom berpendapat bahwa unsur Indonesia dalam budaya tersebut masih sangat jelas. Ia menyimpulkan bahwa peranan budaya Indonesia dalam proses pembentukan budaya India di Indonesia sangat penting. Hal itu tidak mungkin dapat terjadi jika bangsa Indonesia hidup di bawah tekanan seperti yang digambarkan oleh teori ksatria. Teori Krom mendapatkan banyak penganut di kalangan peneliti. Akan tetapi dengan adanya kemajuan-kemajuan dalam penelitian, tumbuh pula pendapat yang beranggapan bahwa teori ini masih kurang memberikan peranan pada bangsa Indonesia. Walaupun Krom telah melihat adanya peranan yang penting dari budaya Indonesia, tetapi masih terdapat kesan bahwa proses itu tidak sepenuhnya ditentukan oleh bangsa Indonesia. Para Pedagang tidak mengerti bahasa sangsekerta dan huruf pallawa. Banyak Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia dan para pedagang yang berasal dari India dan menyebarkan agama Hindu-Budha ketika berdagang 

Teori Sudra

Teori Sudra dikemukakan oleh van Faber. Menurut teori ini, di India banyak terjadi perang. Dengan demikian, banyak pula tawanan perang. Indonesia dijadikan sebagai tempat pembuangan bagi tawanan-tawanan perang. Para tawanan perang itulah yang menyebarkan kebudayaan Hindu di Indonesia. Budak dan tawanan tidak memahami bahasa sangsekerta dan huruf pallawa. Para budak atau tawanan lebih cepat akrab dengan masyarakat sekitar sehingga lebih mudah komunikasi

Teori Arus Balik

F. D.K Bosch sesuai pendirian dengan van Leur. Bertolak dari sifat unsur-unsur budaya India yang diamatinya dalam budaya Indonesia. Ia juga berpendapat bahwa proses indianisasi di Indonesia dilakukan oleh kelompok cendekiawan dalam masyarakat yaitu para administrator atau clerk. Untuk mengamati proses yang terjadi antara budaya Indonesia dan India, Bosch menggunakan istilah penyuburan. Ia melihat dua jenis proses penyuburan. Penyuburan pertama dan kemungkinan telah terjadi lebih dahulu adalah proses melalui pendeta agama Buddha. Awal hubungan dagang antara Indonesia dan India bertepatan pula dengan perkembangan pesat dari agama Buddha. Biksu-biksu agama tersebut menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui jalur-jalur perdagangan tanpa menghiraukan kesulitan-kesulitannya. Mereka mendaki pegunungan Himalaya untuk menyebarkan agamanya di Tibet. Dari Tibet kemudian melanjutkan dakwahnya ke utara hingga akhirnya sampai ke Cina. Kedatangan mereka biasanya telah diberitakan terlebih dahulu. Setelah mereka tiba di tempat tujuan biasanya mereka berhasil bertemu dengan kalangan bangsawan istana.

Dengan penuh ketekunan para biksu itu mengajarkan agama mereka. Selanjutnya dibentuklah sebuah sanggha dengan biksu-biksunya. Melalui biksu ini timbul suatu ikatan dengan India, tanah suci agama Buddha. Kedatangan biksu-biksu India di berbagai negeri ternyata mengundang arus balik biksu dari negeri-negeri itu ke India. Para biksu kemudian kembali dengan membawa kitab-kitab suci, relik dan kesan-kesan. Bosch menyebut gejala sejarah ini sebagai gejala arus balik. Aliran agama lain dari India yang meninggalkan pengaruh di Indonesia adalah agama Hindu. Berbeda dengan agama Buddha, para brahmana agama Hindu tidak dibebani kewajiban untuk menyebarkan agama Hindu. Hal ini karena pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi seseorang itu lahir sebagai Hindu.

Dengan konsep seperti, proses hinduisasi di Indonesia menjadi semakin menarik, karena tidak dapat dipungkiri orang-orang Indonesia pasti awalnya tidak dilahirkan sebagai Hindu, tetapi dapat beragama Hindu. Untuk dapat menjelaskan fenomena ini harus dilihat terlebih dahulu watak khas agama Hindu. Agama Hindu pada dasarnya bukanlah agama untuk umum dalam arti bahwa pendalaman agama tersebut hanya mungkin dilakukan oleh golongan brahmana. Beranjak dari kenyataan ini, terdapat berbagai tingkat keketatan pelaksanaan prinsip tersebut. Hal itu tergantung dari aliran sekte yang bersangkutan. Adapun sekte agama Hindu yang terbesar pengaruhnya di Jawa dan Bali adalah sekte Siwa-Siddhanta.

Aliran Siwa-Siddhanta sangat esoteris. Seseorang yang dicalonkan untuk menjadi seorang brahmana guru harus mempelajari kitab-kitab agama selama bertahun-tahun dan setealh diuji baru dizinkan menerima inti ajarannya langsung dari seorang brahmana guru. Brahmana inilah yang selanjutnya membimbingnya hingga ia siap untuk ditasbihkan menjadi brahmana guru. Setelah ditasbihkan, ia dianggap telah disucikan oleh Siqa dan dapat menerima kehadirannya dalam tubuhnya pada upacara-upacara tertentu.

Dalam keadaan demikian ia dianggap dapat merubah air menjadi amrta. Brahmana itu lantas diundang ke Indonesia. Mereka melakukan upacara khusus dapat menghindukan seseorang (vratsyastoma). Pada dasarnya kemampuan mereka inilah yang menyebabkan raja-raja Indonesia mengundang para brahmana ini. Mereka mendapat kedudukan yang terhormat di kraton-kraton dan menjadi inti golongan brahaman Indonesia yang kemudian berkembang. Penguasaan yang luas dan mendalam mengenai kitab-kitab suci menempatkan mereka sebagai purohita yang memberi nasehat kepada raja, bukan hanya di bidang keagamaan tetapi juga pemerintahan, peradilan, perundang-undangan dan sebagainya. Kemungkinaan orang Indonesia untuk belajar agama HinduBudha ke india sulit, karena pada masa itu orang indonesia masih bersifat pasif. Ada kemungkinaan para bangsawan di Indonesia pergi ke India untuk belajar agama HinduBudha dan Budaya, tujuanya agar dengan ilmu yang mereka dapat dari india, para bangsawan bisa membuat kekuasaan di Indonesi dengan mencotoh kebudayan Hindu-Budha

 

 

 

 

 

 

 

 

“Jalur Rempah: Akar Peradaban dan Perdagangan Dunia dari Nusantara”

  Jalur Rempah merupakan salah satu warisan maritim terbesar dalam sejarah Indonesia. Jalur ini adalah jaringan perdagangan laut yang mengh...